Januari 2014
Ytc. Saudara-saudaraku
Hakimuddin – Kakak (Jakarta)
Irhamudin – Kakak (Palembang)
Arkanudin – Adik (Pagaralam)
Astan Budianto – Adik (Pagaralam)
Edi Inhari – Adik (Jakarta)
Rini Fitriana – Adik (Jakarta)
Sinta Dewi – Adik (Pagaralam)
CC: Ibunda tercinta Hj.Ramijah (Pagaralam)
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Puji dan Syukur sebelumnya ku panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya atas izin-Nya aku masih bisa menulis dan merangkai kata-kata ini. Yang tak lain kutujukan buat Saudara-saudaraku tercinta.
Dear Saudara-saudaraku,
Entah aku harus memulai darimana, rasanya banyak sekali yang ingin kutuangkan dalam suratku ini. Tak terasa sudah puluhan tahun berlalu sejak kita sama-sama berumah tangga. Dan hanyut oleh kesibukan serta tanggung jawab masing-masing. Meskipun sekali-kali kita masih bisa berkumpul. Entah itu disaat pulang kampung bersama, ataupun ada hajatan diantara kita. Dan Alhamdulillah untuk saudara-saudaraku yang tinggal di Jakarta, kita membuat acara rutin agar bisa bertemu dalam 2 (dua) bulan sekali, demi menjaga silaturahim diantara kita, dengan judul ”Arisan” J. Dan untuk saudara-saudaraku yang berjauhan, Alhamdulillah sekarang ini sudah ada media sosial sehingga kita bisa berkomunikasi kapan saja.
Saudara-saudaraku tercinta!.
Dua kakakku, serta adik-adikku. Terkadang ingatanku melayang ke masa lalu. Dimana kita 8 (delapan) saudara, tinggal bersama dengan kedua orang tua kita. Alhamdulillah kita merupakan keluarga besar yang beruntung, mempunyai seorang Ayah yang tegas dan bijaksana, serta mempunyai seorang Ibu yang sabar dan penuh perhatian terhadap anak-anaknya. Aku masih ingat, kalau menjelang lebaran. Ibu kita menjahit baju baru sendiri buat anak-anaknya. Yang laki-laki dibuatkan baju seragam, Kalau yang masih kecil dibuatkan baju kodok. Sedangkan aku anak perempuan, dibuatkan baju ala princess kata orang zaman sekarang. Dengan rok yang mengembang dan bordiran yang dibuat sendiri oleh Ibu. Cantik dan rapi. Aku masih ingat juga, dimana kalian saudara-saudaraku yang laki-laki, sudah gondrong (panjang) rambutnya. Ibu pula yang memotong rambut kalian semua. Kalian antri satu persatu, seperti memotong rambut ala DPR (dibawah pohon rindang). Sementara Ayah kita kerja menunaikan kewajibannya sebagai seorang Ayah yang mempunyai banyak putra-putri. Beliau adalah seorang Ayah yang tangguh, meskipun ayah kita bukan pekerja kantoran, disiplin beliau mengalahkan karyawan. Aku masih ingat, setiap pagi, Ayah kita rutin berangkat lebih kurang jam 07.00, pulangnyapun setelah jam 17.00. Tak ada libur dihari Sabtu atau Minggu. Hanya di hari Jumat beliau istirahat setengah hari untuk menunaikan sholat Jumat tentunya. Berkat keuletan beliau dengan usahanya dibidang jual beli bahan bangunan, Alhamdulillah kita semua bisa tumbuh dengan baik.
Satu lagi kenangan masa kecilku yang hingga kini masih suka melintas dalam ingatan. Rumah kita jaraknya lebih kurang 5 km dari rumah nenek. Pada saat itu masih jarang sekali kendaraan umum yang lewat, jalannyapun masih banyak yang berbatu tidak seperti sekarang ini. Jarak dari kampung ke kampungpun masih sepi. Kalau kita mau ke rumah Nenek harus melalui beberapa kampung, sawah, bahkan kebun. Suatu hari, kakakku yang nomor 2 Irhamudin, mengajakku ke rumah Nenek tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu. Kalau bilangpun pasti tak akan diperbolehkan. Saat itu umurku belum genap 6 th, karena belum sekolah. Sedangkan kakakku 10 tahun kurang, karena selisih umur kami 4 tahun.
”Dek, ayo kita ke rumah Nenek” ajak kakakku
”Tapi tidak usah bilang-bilang” sambungnya lagi
”Ayo!” jawabku tanpa berpikir panjang lagi.
Kami berduapun pergi dengan berjalan kaki.
Masih kuingat, kakakku suka bertanya.
”Capek ya dek?. Kalau capek kita duduk dulu” Katanya penuh perhatian.
Akupun suka bertanya.
”Kita tidak sampai-sampai kak? Masih jauh ya?”
”Sebentar lagi” Jawab kakakku.
Beberapa kali aku bertanya, jawab kakakku selalu sama, sebentar lagi.
”Kalau kamu capek, sini biar kakak gendong!” Sambungnya lagi sambil membungkuk. Oh, thanks to Allah! Moment inilah yang selalu membuatku terharu kalau mengingatnya, dan membuat aku rindu akan kakakku yang nomor 2 yang tinggal di Palembang. Bagaimana tidak? Di umurnya yang belum 10 tahun mau menggendong adiknya yang berumur 6 tahunan?. Meskipun masih kecil aku tau, itu tidak mungkin, akupun menggeleng meski sebenarnya aku memang lelah.
Beberapa kali kami duduk di rerumputan di pinggir jalan. Setelah lelah kami hilang, kami meneruskan perjalanan lagi. Entah sudah berapa jam kami menghabiskan waktu. Seingatku waktu itu sudah sore kami baru tiba. Dan baru beberapa menit kami tiba di rumah Nenek, kakakku yang pertama muncul menyusul kami. Ternyata dia disuruh Ibu. Akhirnya kami bertiga nginap dulu di rumah Nenek, baru keesokan harinya pulang dengan kendaraan seperti mobilnya Mr.Bean atau semacam oplet aku juga tidak begitu ingat.
Saudara-saudaraku tercinta!.
Kalau mau kuuraikan kenangan manis kita satu persatu, tidak akan cukup, dua hingga tiga hari untukku, menulis di lembaran ini.
Setelah tamat SMA bahkan SMP, orang tua kita rela melepaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu di negeri seberang kata orang. Dalam hal ini, yang tak bisa kulupakan adalah peran kakakku yang tertua Hakimuddin. Dia sebagai anak pertama yang merantau duluan. Lalu kemudian aku serta kedua adikku Iin dan Ipit (Edi Inhari dan Rini Fitriana) menyusul. Sebagai adik aku sangat bersyukur mempunyai kakak yang sangat menyayangi adik-adiknya. Dan Alhamdulillah diapun mendapatkan seorang istri yang baik juga, dimana kakak iparku selalu mendukung apabila kakakku membantu kami adik-adiknya. Khusus buat kakakku dan kakak iparku, maafkan bila selama kami ikut dengan kalian, sudah banyak merepotkan. Dan maafkan, secara financialpun kami tidak bisa membalas apa-apa. Hanya doa yang bisa kami panjatkan atas semuanya. Semoga kalian selalu diberikan keberkahan dan kebahagiaan, dunia akhirat.
Saudara-saudaraku tercinta!.
Waktupun terus berlalu. Ayah kita telah tiada. Tinggal Ibu kita, beliaupun sudah sakit-sakitan. Jangankan Beliau yang sudah lebih dari 70 tahun umurnya, akupun yang sudah tidak muda lagi, mulai pegel-pegel linu J. Dalam hal ini aku sangat bersyukur mempunyai seorang adik perempuan Sinta, adikku yang bungsu. Diantara kesibukkannya mengurus anak-anaknya yang masih kecil. Dia juga yang menjaga Ibu. Khususnya untuk adikku Sinta, terima kasihku yang tak terhingga, maafkan bila aku tidak bisa mengurus Ibu kita seperti dirimu. Semoga Allah memberimu kesabaran serta melimpahkan pahala yang berlipat ganda untukmu. Karena kondisi Ibu memang tidak memungkinkan lagi untuk tinggal di Jakarta, beliaupun maunya tinggal di kampung, diatas kursi rodanya, kami hanya bisa membantu dari jauh. Dan beruntung juga yang tinggal di kota Pagaralam bukan hanya Sinta, tapi ada dua adik laki-lakiku, Rekan dan Budi, untuk membantu adikku Sinta merawat Ibu.
Saudara-saudaraku tercinta!.
Seiring dengan berjalannya waktu jua. Satu harapanku, mari kita jaga nasehat dan pesan dari Ayah Ibu kita. Dimana mereka selalu berkata terhadap kita anak-anaknya. Anak yang besar (lebih tua) mengasuh dan membimbing adik-adiknya. Sementara anak yang lebih kecil menurut serta menghormati kakak yang lebih tua. Jangan sampai kita terpecah belah sebagai saudara!. Oleh hal apapun itu. Dan juga mereka selalu berpesan, dimanapun kita. Jangan lupa menjalankan kewajiban kita sebagai mahluk ciptaan-Nya.
Saudara-saudaraku tercinta!.
Sebelum kita mempunyai guru orang lain, Ayah dan Ibulah guru bahkan dosen kita yang terbaik. Dimana dalam segala hal (pelajaran) mereka turunkan kepada kita anak-anaknya. Satu mata pelajaran yang paling berharga adalah ”Pendidikan Agama”. Dimana kita menyekolahkan anak-anak kita dari PAUD, TK Alquran ataupun TPA. Dengan kata lain kita banyak bantuan dari luar untuk pendidikan anak-anak kita. Sementara kita dahulu? Tidak ada PAUD ataupun TK!. Ayah dan Ibu kita langsung yang mengajari kita membaca Alquran, menuntun kita sholat dll, sebelum kita masuk ke sekolah formal.
Saudara-saudaraku tercinta!
Dalam surat terbukaku ini, aku hanya mampu berdoa, semoga kita semua selalu dalam bimbingan serta ridhoNya. Karena kita di dunia ini hanya sebentar, Tanpa RidhoNya kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.
”Ya Allah, jadikanlah kami keluarga besar yang soleh dan solehah, tuntunlah selalu kami pada jalanMu. Jadikanlah kami orang-orang yang selalu dalam keadaan Istiqomah hingga akhir hayat nanti. Amin Yaa Robbal A’alamiin..”
Akhir kata, aku sangat menyayangi kalian semua saudara-saudaraku!
Wassalam, best regards
Ruhailah
*Special note for our beloved mother. Big hug from your daughter and son in Jakarta.
“Yaa Rabb, please guide our family to attain Your Jannah, even though we do not know, when it will be happen?”

Aminnn, Aminnn, aminnn ya robbalalaminn ������
BalasHapus