Pagaralam like a beautiful girl. Itu versiku mengenai keindahan kota Pagaralam. Sudah banyak juga rekan-rekan blogger terutama yang berasal dari Pagaralam sendiri, atau yang pernah berkunjung ke Pagaralam (traveler). Dimana mereka melukiskan keindahan kota Pagaralam dan sekitarnya.
Sebelum kita masuk ke alamnya Pagaralam, yuk...kita itung-itung dulu jarak tempuh kalau dari Jakarta tentunya, dimana tempatku mencari nafkah. Belasan tahun aku tinggal di Pusat keramaian DKI Jakarta. Dan setiap tahunnya semakin padat. Akhirnya aku menyingkir ke arah Bogor, padahal emang mendekati tempat kerja sich.
Untuk menuju ke Pagaralam, kalau dengan bus bisa dari Terminal Kalideres atau Terminal Kampung Rambutan, dari Bekasi juga ada. Jarak tempuhnya hampir sama, lebih kurang 20 jam. Yaa...berangkat hari ini nyampenya besok pagi. Kalau dengan kendaraan pribadi bisa ditempuh lebih kurang selama 18 jam, tanpa acara nginep lho? di jalan. Kalau lewat udara dari Bandara Soetta, bisa lewat kota Palembang ataupun via kota Bengkulu. Adapun jarak tempuhnya. Dari Bandara Soetta ke Palembang lebih kurang 1 (satu) jam, itu plus muter-muter sebelum berangkat dan setibanya di Bandara Palembang. Dari Palembang bisa naik travel ataupun bus. Jarak tempuhnya lebih kurang 8 jam.
Kalau via Bengkulu, dari Bandara Soetta sekitar 1 jam 15 menit plus muter-muternya juga. Tapi jarak kota Bengkulu ke Pagaralam hanya sekitar 4 jam dengan kendaraan. Jadi lebih hemat waktu, tapi suka boros di biaya hehehe...J
Pagaralam, kenapa saya katakan like a beautiful girl?, seorang gadis yang cantik?. Karena semua orang senang melihat gadis yang cantik. Dari anak-anak hingga orang tua. Apalagi kaum adam tuh! hehe.....J. Tapi disini saya menggambarkan alamnya. Bahwa kita semua senang melihat sesuatu yang cantik!.
Sesuai dengan namanya, begitu kita memasuki area yang menuju kota Pagaralam, kita akan disambut oleh bukit barisan yang menghijau, pesawahan serta perkebunan yang subur, serta aliran sungai yang masih jernih. Tidak seperti Kali Ciliwung ataupun seperti Kali Malang Melintang di Jakarta.
Kalau sudah mau memasuki kota, akan tampak Gunung Dempo yang perkasa, yang di lembahnya terhampar perkebunan teh yang luas, tertata rapi bak permadani alam membentang indah.
”Pokoknya, kebun teh di kawasan puncak Cipanas? lewatt!! hehehe...” maklum daerah kelahiran sendiri.
”Tapi memang indah kok bro and sist”. Promosi nih yee?
Ini belum termasuk kawah yang ada di puncak Gunung Dempo. Konon katanya. Bukan konon sih, kalau aku sudah beberapa kali mendaki Gunung Dempo, saat aku masih sekolah di Pagaralam. Dimana kawah Gunung Dempo tersebut warnanya kadang seperti susu kadang-kadang kebiruan (mungkin pantulan awan) kali. Dan adakalanya hijau, klo ini pengaruh aktifitas vulkaniknya mungkin. Tapi tidak sampai tujuh warna, seperti telaga putri yang ada di Bengkulu. Wah kalau aku ngebahas sampai ke kawah, serta rimba belantaranya Gunung Dempo, sudah beda lagi temanya. Jadi cerita Jelajah Pesona Gunung Dempo. Disini aku ambil sebagian saja ya bro and sist?
Oh, ada lagi yang belum kuceritakan. Disekitar kota Pagaralam itu banyak sekali situs-situs purbakala. Dimana banyak batu-batu yang dipahat dalam bentuk dan ukuran yang bermacam-macam. Umurnyapun sudah cukup lama kalau menurut para Arkeolog. Di dekat kampungku sendiripun aku sempat melihatnya. Tapi karena waktu itu aku masih kecil. Tidak begitu tertarik.
”Apaan ini batu kok di tumpuktumpuk seperti ruangan?”
Ibuku sempat menjelaskan kalau itu katanya tempat persembunyian orang pribumi pada saat zaman penjajahan. Dan ada juga sebagai tempat penyimpanan harta benda.
”Wah kalau zaman penjajahan belum begitu lama?” pikirku.
Ada juga yang seperti binatang, manusia, bahkan seperti rumah.
Tapi setelah puluhan tahun aku merantau, banyak sekali aku membaca dan mendengar, kalau di Pagaralam, sering ditemukan relief-relief serta patung-patung yang sudah berumur ratusan tahun.
Satu lagi bro and sist, di Pagaralam itu banyak sekali air terjun. Dari yang imut-imut sampai yang besar, tinggi maksudnya. Ada yang disebut Cughup Mangkuk. Karena lokasi tempat air terjun tersebut seperti mangkok. Akupun merasa takut waktu berkunjung kesana, karena jalannya menukik turun. Tapi setelah tiba dibawah.
”ehhmmmm suejuk bangettt”.
Ada yang disebut Cughup Embun. Karena disekitarnya embun semua. Pastinya embun semua, lha embun yang ditimbulkan oleh air terjun itu sendiri. Ada Cughup Lawang Agung. Sepertinya yang ini karena seperti pintu tapi lebar banget, makanya dinamai demikian. Dan yang menjadi andalan adalah Air Terjun Lematang Indah. Itu yang paling tinggi lebih kurang 40 M kata orang, karena aku sendiri belum pernah mengukurnya..Tapi sayang bro and sist, transportasi ke Pagaralam memerlukan waktu yang panjang, kalau bro and sist dari kota-kota besar. Padahal di awal tahun 2013 kemarin, Lapternya sudah di uji coba kelayakannya, oleh Walikota Pagaralam beserta Gubernur Sumatera Selatan. Menurut mereka sudah ok dan mulai beroperasi di tahun 2014 ini.
Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tandanya. Mudah-mudahan cepat terealisasi ya bro and sist? Biar perjalanan kesana lebih lancar, terutama kalau kami sekeluarga pulang kampungpun jadi lancar pula. Amin...
Begitulah bro adn sist, sedikit gambaran mengenai kota kelahiranku Pagaralam. Memang indah!. Like a beautiful girl. Jadi inget lagunya Jose Mari Chan nih!.
Beautiful girl...whenever you are...
you had open the door
I knew that I’d love again
after a long, long while....dst.
Ibaratnya Pagaralam itu gadis yang cantik!.
Dimanapun aku, selama apapun waktu, sejauh apapun jarak yang memisahkan, aku tetap mencintai kota kelahiranku. I love Pagaralam.
Nice written Sist.Lala, sudah seperti penulis provesional, itulah yang membedakan menulis dengan hati atau menulis karena pekerjaan.
BalasHapusThanks my bro. Iya nih git, abis 99% pengalaman pribadi, berarti memang suara hati hehehe......
BalasHapus