Bidadari kecilku (I)
Kala mentari tersembul di ufuk timur
Rona pipimu ranum menggemaskan
Mendorong langkah kakiku
Dengan ringan, menuju ladang masa depan
Kala senja mulai merapat, matamu berbinar
Memancarkan keteduhan
Membuat rasa lelah, hilang lenyap
Kala malampun merayap
Tangan kecilmu menggapai minta didekap
Terkadang engkau merengek manja
Tak jarang pula tangismu terpecah
Namun karena semua itu, kantukpun hilang
Berganti belaian lembut, penuh rasa dan makna
Nabila "bidadari kecilku"
Engkau mutiara yang tumbuh
dari jalinan kasih yang putih
Nabila "bidadari kecilku"
Semoga kelak, engkau tetap putih
Dalam rangkuman kasih
Ibumu, Ayahmu, dan Penciptamu
Jakarta '98
Bidadari Kecilku (2)
6 November 1997
Senja merah
Menguak sebuah noktah
Dan, atas kebesaran-Nya
Lahirlah "Bidadari kecilku"
Kuberi nama "Nabila"
Hari demi hari bergulir
Bidadari kecilku tumbuh, mungil dan cantik
Namun, dibalik bola matanya yang indah
Tiba-tiba redup, seakan-akan mendung di sekelilingnya
Hanya tangan mungilnya
Selalu menggapai perlahan
Seakan minta didekap dan selalu dekat
6 Juni 1999
Dinihari yang kelam
Sekelam duka, yang membalutku saat itu
Diantara selang-selang, ventilator, dan tabung oxygen
Bidadari kecilku tampak lemah
Dengan Maningitis yang dideritanya
Dinihari itu juga
Tanpa mampu berkata
Ku cium bidadari kecilku, untuk yang terachir
Karena...
Sang Pencipta
telah memanggilnya
Diantara isak yang sesak
Aku hanya mampu berberucap
"Innalillahi wa innailaihi rooji'uun"
Selamat jalan anakku
Selamat jalan bidadariku
Air matakupun tumpah, sejak itu...
Dan, setiap kali aku mengenangnya
"Nabila"
Bidadari kecilku
Jakarta, Juli ‘99
Ingin Pulang
Sekilas kulirik jendela disebelahku
Tampak gumpalan awan hitam menggelayut
Pohon-pohon di taman berlenggok seperti siluet disapa sang bayu
Cuaca yang makin temaram
Semakin memacu keinginan untuk pulang
Namun sayang, sang waktu masih termangu
Dan memintaku.. sabar menunggu...
Bogor, February 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar